Derita dan hujan.
Siang itu hujan turun. Lebat. Bukan sekedar membasahi bumi. Ini adalah hujan terlebat sejak awal ramadhan kemarin.
Hujan. Sekumpulan air yang jatuh, turun ke bumi dari langit di atas sana. Bersama dengannya, angin bertiup semaunya. Terkadang pelan, menyapu lembut semua penghuni bumi. Namun tak jarang ia memacu tinggi kecepatan hadirnya disini. Menerbangkan semua yg tak kuat berpegangan. Mengecilkan suhu yang sebelumnya sudah terdinginkan.
Hujan. Adalah salah satu sumber kehidupan untuk makhluk yang ada di bumi. Termasuk kita: MANUSIA.
Tak masalah mungkin bagi kita manusia yang memiliki rumah. Berteduh di dalamnya dengan penghangat alakadarnya mungkin sudah lumayan.
Di luar sana, lihat satu buah tanaman. Dengan dedaunan hijau mengelilingi. Ada yg lebar, ada yang kecil daunnya. Tapi lihatlah… Kecil atau lebar daun tanaman itu, hujan seakan tak perduli. Ia menjatuhi mereka. Tak bertanya terlebih dahulu apakah daun-daun itu sanggup kejatuhan hujan yg lebat. Belum lagi angin yg terkadang mematahkan ranting-rantingnya.
Sampai disini, kita sepakat bahwa hujan lebat menurut tanaman adalah bencana. Meski tak seluruhnya… Baca selebihnya »
Muhammad Aqsha Fathurrabbani
Juli 2009.
Alhamdulillah. Biidznillah, telah lahir putra kami. Dengan sehat, normal, dan tak kurang suatu apapun.
Siang itu di Rumah Sakit Umum Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi SUMUT. Dengan berat 3.8 kg.
Seiring dgn zikir yg terus kami lantunkan, ia lahir. Mengumandangkan tangisnya yg mengisi seluruh wìlayah di ruang persalinan.
Selamat Datang di duniamu yang baru nak. Engkau adalah amanah dari Allah. Juga bukti cinta dari Allah.
Sholehlah engkau nak. Besar harapan abi dan umat ini, semoga engkau menjadi pembaharu. Menjadi bukti cinta pada seluruh manusia bahwa Allah mencintai kita semua.
Doa Cari Jodoh
Ini adalah sebuah doa untuk mencari jodoh. dikirim oleh seseorang melalui email kepada saya.
saya tetunya butuh pendapat teman-teman mengenai doa ini. apakah persepsi kita sama, atau berbeda….
semoga doa ini ada manfaatnya jua
“Ya Tuhan, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah… Baca selebihnya »
Untuk Ira
“Ra…”
Ira menengadahkan kepalanya, memandangku.
Awalnya aku ingin menghunjamkan pandanganku ke dasar bumi. Tapi urung. Itu sama saja aku mengarahkan pandanganku ke rambut Ira. Pesona indah yang ia miliki.
Panjangnya kini sudah mencapai pinggangnya. Dulu ia tomboy. Rambut pendek. Tak ada kemilau. Nasib rambut Ira seperti penduduk yang tak dianggap oleh pemerintah. Masyarakat terbelakang. Tapi setelah kami berteman dekat. Ia mulai merubah penampilannya.
Aku sering cerita ke Ira bahwa wanita itu rambutnya harus panjang, sopan dalam berkata-kata, lemah lembut rapi dan semua persepsi sempurna tentang wanita dalam benakku aku tumpahkan ke Ira. Sampai akhirnya perasaanku berubah ke Ira.
Desiran aneh itu sering muncul mengaliri darahku. Mnghentakkan jantungku smpai ritmenya lebih cepat dan terus bergerak lebih cepat bila aku memndangnya, berada disampingnya. Awalnya kutepis perasaan itu. Aku tak ingin merusak hbungan ini dengan sesuatu yang sering disbut-sebut cinta.
“Ya, ndre…” sahutnya. Suara itu lembut sekali. Jauh berbeda dengan gaya bicaranya dulu. Asal. Sampai sekarang aku masih tak percaya. Dan gemuruh dihatiku datang lagi, apakah ini saat yang tepat untuk mengatakannya pada Ira? Mata kami bertemu, saling pandang. Adakah ini murni perasaanku? Atau aku dalam buaian syetan yang membuat semua yang ada didiri Ira indah. Kulihat mata itu begitu bening. Teduh aku memandangnya. Sampai sesak terkadang dada ini menahan gejolak di dda yang semakin. Itambah senyum simpul yang menghiasi wajahnya memandangku. Pesona terindah yang Ira miliki.
Tak semua orang bisa melihat senyum itu. Senyum itu hanya diciptakannya untuk aku. Karena sering aku lihat senyum Ira saat ia berpapasan dengan teman-temannya. Beda! Tak seperti yang terlihat ketika ia bertemu aku. Hanya dengan istighfar sesak itu berangsur-angsur mereda. Sambil aku akhiri dengan tarikan nafas yang dalam.
”em.m..m…m….” bingung. Aku membuang pandnganku jauh-jauh. Sampai ketitik terjauh yang mampu dilihat oleh mataku. Garis horizontal yang seolah menyatukan hamparan laut luas dengan langit yang membiru. Awan-awan putih berserak. Menutupi birunya langit. Namun tak mengurangi keindahan panorama yang tercipta. Dan burung-burung camar yang saling bercanda seolah antusias untuk menyempurnakan pemandangan langit sore ini.
Ira masih memandangku. Ia tak lagi memprdulikan ombak yang datang membelai-belai ujung sepatu pink kesayangannya. Biasanya ia akan sdikit menjerit manja sambil menjauh dari air asin itu.
”Ada apa Ndre? Sepertinya serius…” sambil membetulkan letak helai-helai rambut diatas kningnya. Mungkin ia sudah mulai penasaran. Mungkin juga sikapku kali ini aneh. Kalau benar, maka ini bukan kali pertama aku bersikap seperti ini.
Aku bingung, dari mana harus ku mulai. Sudah dua tahun kami sepakat merubah ikatan persahabatan ini mejadi ikatan yang lebih spesial, lebih istimewa : ikatan asmara.
Di tempat ini, dua tahun yang lalu. Waktu itu kami berdua berlibur kepantai ini. Aku melihat wajah Ira begitu ceria. Menambah indah rona wajahnya yang memang sudah kukagumi sebelumnya.
Titik air berjatuhan. Sebelumnya awan mendung memang telah datang memberi tanda bahwa kawanan cair itu akan bertamu. Tak masalah. Kami berteduh di sebuah pohon rindang. Entah apa nama pohon itu. Kami bercanda disana. Sedikit basah pasti. Karna memang pohon itu tak sempurna menghalangi air untuk jatuh kebadan kami berdua. Setelah hujan mereda, aku mengajak Ira menuju tempat parkir sepeda motor.
Sudah sore. Waktu yang tepat untuk segera pulang. Ira pun setuju. Tapi sebelum sampai kesana, Ira memegang lembut lenganku, wajahnya berubah serius. Sesaat setelah itu, aku mendengarkannya berkata. Memperhatikan wajahnya yang terlihat begitu hati-hati mencari kata yang pas untuk mendeskripsikan semuanya.
‘Ndre… sudah lama aku ingin membicarakan hal ini ke kamu’ Singkat saja, itulah detik-detik perubahan status pertemananku dengan Ira. Berubah menjadi sebuah hubungan spesial. Hatiku berontak. Ingin segera mengakhiri semua ini.
Baca selebihnya »
MENATA CINTA SESUAI PORSINYA
rickyarianda
Siapa yang tak kenal dengan cinta? Setiap orang pasti mengenalnya. Sebuah kata yang memiliki seribu arti bahkan lebih. Hampir bisa dikatakan bahwa kata itu adalah kata yang tak terdefinisi, tentu secara signifikan. Karena setiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentangnya.
Dalam dunia remaja, cinta juga hadir. Seiring dengan pertambahan usia dan pertumbuhan secara psikologis maupun biologis. Ia kadang dianggap positif karena sebagian kalangan memandang bisa menjadi motivasi dalam belajar.
Tak sedikit pula yang menyatakan negatif bahkan merusak karna mampu menjatuhkan prestasi sedemikian rupa tak terhingga. Cinta adalah fitrah yang diberikan Allah SWT kepada kita. Karna memang Allah menjadikan dalam pandangan kita indah para wanita-wanita dan hal-hal lainnya (Q.S 3:14).
Maka jangan pernah merasa berdosa Baca selebihnya »
Ibarat Kertas
Sampai disini, kita sepakat bahwa kertas yang baiklah yang akan dipakai untuk menulis urusan-urusan penting. Untuk kemudian menjadi kertas yang lebih berharga. Bahkan mungkin menjadi abadi karena menyimpan kenangan yang tak dapat terlupakan atau karena nilainya yang sangat sehingga ia akan dirawat dengan sebaik mungkin. Dijaga sedemikian hingga tak sembarang ia diperlakukan.
Juga kita sepakat bahwa kertas yang buruk hanya akan menjadi sesuatu yang bisa dibilang tak berarti. Ia hanya akan menjadi sekedar, atau malah tak berarti. Tiada tak akan dicari, tetapi hadirnya juga malah hanya akan membuat sampah. Tak bernilai.
Lalu dimana kita berada? Kertas baik yang kemudian mungkin menjadi istimewa? Baca selebihnya »
DO’A
Dilantunkan oleh K.H. Rahmat Abdullah pada Deklarasi Partai Keadilan Lapangan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, 09 Agustus 1998, yang diiringi oleh tetesan air mata hadirin.
Ya ALLAH, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.
Engkaulah sebaik-baik yang, mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya
Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami Rukunkan antar hati kami
Tunjuki kami jalan keselamatan
Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang
Jadikan kumpulan kami jama’ah orang muda yang menghormati orang tua
Dan jama’ah orang tua yang menyayangi orang muda
Jangan Engkau tanamkan di hati kami kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan, pengkhianatan dan kedengkian
Ya ALLAH, Baca selebihnya »
GENERASI
Setiap bangsa membutuhkan generasi. Seperti bangsa kita yang sangat membutuhkannya. Bukan hanya karena permasalahan yang begitu rumit dalam ‘rumah tangga’ kita. Tetapi karena ternyata, ‘kita’ tak terlalu perduli untuk mempersiapkan generasi kita. Namun sekarang kita semua sepakat dalam satu hal bahwa “HARAPAN ITU MASIH ADA”.
SELAMAT DATANG… Baca selebihnya »
Tetes Terakhir.
By: Quds Arianda
Mungkin sudah dari tadi aku akan kegerahan. Menyeka peluh yang meleleh di dahi. Sepertinya mentari begitu dekat di atasku. Mengumpulkan semua daya upayanya dan mengarahkan semua sinarnya untukku.
Pfuh… Ini adalah kondisi terburuk dalam hidupku. Tertinggal sendirian disini. Disebuah ruang kosong tak berpenghuni. Andai saja aku bisa berlari, aku akan meluncur seperti peluru yang berdesing-desing. Tak menghiraukan bising yang semakin.
Sendiri… Terkadang sunyi… Terkadang dikecam ketakutan yang parah… Mungkin aku adalah generasi terakhir yang mereka sisakan. Entahlah, aku bertahan karena aku terus ditemani ayah dalam dunia imajiku. Ayah adalah sumber inspirasi bagiku. Atau lebih tepatnya aku adalah miniatur ciptaan Tuhan : ayahku. Gerak geriknya, aku tiru. Nada bicaranya, aku tiru. Semuanya.
Tapi aku paling benci ketika melihat ayahku marah. Sepertinya ia berubah menjadi makhluk paling menyeramkan yang pernah ku lihat. Tapi itu tak mengurangi pesonanya dimataku. Ia tetap ayahku, meski aku tak pernah berharap bahwa aku juga akan meniru cara ketika ayah marah. Caranya ketika meledakkan emosinya ketika memang sudah tak tertahan lagi. Ia berdiri, lalu seketika rona wajahnya memerah. Ahkan terkadang seolah diliputi warna kehitaman. Hilang wajah aslinya yang sendu, yang ketika kau lihat maka kau akan merasa bahwa ia akan menentramkanmu.
Ah! Aku tak ingin mengenang kemarahan ayah. Aku tak akan melanjutkannya. Satu yang aku sesali, mengapa ayah tak duduk ketika ia sedang marah. Ketika emosinya meninggi mengapa ia berdiri. Andai ia duduk dan beristighfar pasti wajahnya akan kembali seperti semula. Ayahku. Biarlah semoga ayah tenang sekarang di tempat terindah yang pernah ada. Menikmati keindahan sungai-sungai yang mengalir. Mungkin juga ia sekarang sedang bersenang-senang dengan para bidadari. Kadang aku berharap bahwa kami juga akan merasakan kenikmatan itu.
Aku mendengar suara tembakan. Baca selebihnya »
Nyalakan cahayamu
Tentu kita sudah faham betul bahwa sifat cahaya selalu menerangi. Sekecil apapun ia. Cahayanya akan bersinar kesekeliling sejauh yang ia mampu. Ia mengusir kegelapan yang pekat. Atau sekedar merubah samar-samar menjadi terang.
Dengan cahaya tentu kita lebih mampu untuk membedakan sesuatu dengan lainnya. Dengan cahaya kita akan lebih jeli untuk mengamati, memperhatikan setiap detil yang akan tertutupi oleh kegelapan bila cahaya tiada. Maka cahaya adalah sangat penting dalam kehidupan manusia. Ia memegang sebuah peran yang pasti. Mungkin sudah banyak pengalaman diri kita masing-masing. Betapa paniknya orang-orang bahkan diri kita sendiri ketika saat kita bermandikan cahaya tiba-tiba cahaya itu padam.
Ada yang menjerit. Ada yang Baca selebihnya »




